Absurd

Liga sepakbola Jerman, Bundesliga, kembali digelar pada hari Sabtu kemarin (WIB). Tentu saja hal ini disambut gembira banyak penggila sepakbola yang sudah rindu akan aksi langsung para idolanya di atas lapangan hijau.

Menariknya, kita disuguhi beberapa protokol baru yang selama ini membuat kita penasaran. Tribun penonton jelas kosong melompong dan mengakibatkan suasana liga terasa seperti suasana latih tanding. Teriakan para pemain jelas terdengar dan membuat kita bisa menangkap dengar beberapa cara komunikasi mereka di lapangan. Prosesi masuk lapangan kini dilakukan terpisah per tim. Wasit dan hakim garis pun masuk lapangan dalam waktu yang berbeda. Pelatih dipinggir lapangan diijinkan untuk tidak menggunakan masker selama tidak melakukan sentuhan langsung dengan staf atau pemain. Bangku pemain cadangan pun dibuat berjarak dan bahkan beberapa menaruh para pemain cadangan di tribun penonton. Jabat tangan di awal laga tidak lagi dilakukan. Dan yang terakhir, selebrasi juga harus mengikuti protokol social distancing yang berlaku. Dilarang berpelukan atau melakukan jabat tangan.

Lucunya, semua hal ini nampak absurd dan konyol. Bukankah para pemain tetap berjibaku satu sama lain di atas lapangan. Apa yang bisa mereka perbuat saat tendangan bebas dilakukan dan pihak lawan mau tidak mau harus berdempetan membentuk pagar hidup?

Julian Brandt bahkan tertangkap kamera meludah dengan santainya layaknya dunia di kala normal. Entah Ia lupa atau memang tidak peduli. Meski beberapa pemain menerapkan aturan social distancing saat melakukan selebrasi gol, para pemain Hertha BSC seakan tidak mengindahkan aturan tersebut. Begitupun nama beken seperti Benjamin Pavard saat mencetak gol ke 2 Bayern Muenchen malam tadi (WIB). Ia jelas memeluk dan mendekap rekannya setelah mencetak gol melalui sundulan kepala. Wasit seakan tidak peduli dan tidak ada ganjaran untuk pola tingkah para pemain di atas yang jelas – jelas melanggar aturan.

Jujur saja, saya sendiri senang melihat sepakbola kembali di layar kaca. Namun jika begini cara mainnya, sebaiknya lakukan saja semua prosedur seperti biasa meski memang harus tetap tanpa penonton. Saya hanya tidak mau, diri ini terus garuk – garuk kepala melihat protokol di luar lapangan dan awal pertandingan setiap pekannya andai liga bisa terus dilanjutkan.

Bukan mau terus berkeluh kesah. Hanya saja, saya teringat ucapan Troy Deeney. “Saya tidak takut jika harus kehilangan pekerjaan atau harta saya. Saya pernah tidak memiliki apa – apa, bangkrut, dan kehilangan segala harta benda. Yang saya takut adalah jika saya pulang dan membawa serta penyakit itu hingga menularkan keluarga saya di rumah.”

Pemain sepakbola hanyalah manusia biasa. Melihat statement di atas, saya nampak rela menunda kesenangan menonton bola demi masa depan dunia yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *