El Nino Yang Tak Lagi Sanggup

“Saya mendengarkan suara hati dan tubuh saya. Saya tak bisa lagi berbohong. Saya tahu tubuh saya sudah tak lagi sanggup menikmati sepakbola di panggung profesional”.

Itulah alasan Torres setelah memutuskan untuk pensiun pada akhir musim ini tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2019 sesuai dengan unggahannya di akun Instragram pribadinya. Pemberitaan yang sempat menjadi berita utama ini seakan membuat kita kembali ke masa lalu mengenang masa jaya pemain berjulukan “El Nino” ini.

Jujur saja, Fernando Torres adalah pemain yang sangat melekat dan meninggalkan kesan bagi pribadi ini. Meski bukan bermain untuk Arsenal, Torres yang berseragam merah Liverpool menjadi sosok yang saya takuti serta idolai pada saat bersamaan. Bayangkan, jika bukan karena masalah cedera, mungkin Liverpool sudah lebih dulu berbuka puasa gelar di Liga Primer tahun 2008/2009 lalu. Bahkan, tahun itu Torres berjasa besar membawa Spanyol masuk ke era keemasan mereka. Gol tunggalnya ke gawang Jens Lehmann membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa 2008. Jika tak ada pemain bernama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, Torres dipastikan sudah menggondol pulang trofi Balon d’Or 2008 dan jadi yang terbaik di dunia tahun itu.

Semenjak membawa Atletico juara di Liga Segunda tahun 2001/2002, Torres menjadi pangeran di Vicente Calderon dan hingga tahun 2007 Ia memimpin Atletico berjuang di La Liga sebelum hijrah ke Inggris. Liverpool menjadi puncak kariernya dan setelahnya, hati ini cukup sakit melihat Ia berganti warna menjadi biru. Setelah badai yang Ia ciptakan mengamuk segila – gilanya bersama Liverpool, Chelsea nampak berhasil mengurung dan memusnahkan sebagian besar daya hancur badai tersebut. Label pemain 50 juta Pounds seakan membuat kaki nya terkekang meski cedera hernia parah serta strategi Chelsea yang tak mengandalkan seorang striker murni bisa dijadikan alasan lain yang lebih logis. Kita tahu bagaimana Liverpool dan Chelsea sangat bertolak belakang dalam urusan memekarkan para penyerang yang mereka miliki. Kalian bisa cari tahu sendiri bagaimana Torres diperlakukan cukup tidak adil melihat track record Chelsea yang bagi saya hanya memiliki Didier Drogba di jajaran pemain depan yang sukses. Itupun dengan gaya permainan yang jelas berbeda dari Torres.

Setelah masa – masa sulit di Chelsea berakhir dengan raihan gelar tertinggi pertama dan kedua di Eropa, Torres hijrah ke AC Milan tanpa meninggalkan banyak kesan. Keputusannya untuk kembali ke rumah lamanya, Atletico Madrid menjadi penutup perjalanan Torres di Eropa. Sempat hampir kehilangan nyawanya karena benturan di kepala, musim lalu Torres mengejar idola masa kecilnya “Captain Tsubasa” ke tanah Jepang. Bertemu dan digambar langsung oleh Yoichi Takahashi, membela Sagan Tosu, dan akhirnya memutuskan mengakhiri karirnya 2 bulan mendatang adalah akhir dari cerita Torres yang kita ketahui hingga titik ini.

Kini waktu yang tersisa tak lagi banyak. Mungkin juga 2 bulan ini akan berlalu tanpa ada aksi menawan dari dirinya yang patut dikenang.

Namun melihat pencapaiannya sebagai peraih medali emas di ajang Piala Eropa 2008 dan 2012, serta satu medali emas di ajang Piala Dunia 2010, Torres layak berdiri tegap dan bangga akan pencapaiannya selama ini. Lupakan lah semua caci maki dan hujatan mereka yang membencimu. Jika perlu, bawa saja medali Liga Champions dan Europa League yang engkau miliki saat dibutuhkan.

Bagi saya, itu semua hanyalah bonus. Gerak tubuh serta permainan cerdikmu yang berujung gol ke gawang lawan sudah cukup jadi bekal untuk terus mengenang pencapaianmu.

Apalagi gol finesse ke gawang Buffon di ajang puncak Piala Eropa 2012.

Luar biasa.

Terima kasih El Nino.

Terima kasih Fernando Torres.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *