Hari Tenang Sang Santo

Santo Iker. Sebuah nama panggilan yang begitu agung untuk pemain yang memang spesial dan memiliki tempat khusus di hati para penikmat sepakbola.

Setelah berkarir selama 22 tahun, Ia telah meraih segala yang bisa Ia gapai. 167 caps di tim nasional & 885 caps di level klub telah Ia kecap. 5 gelar La Liga, 3 gelar Liga Champions, 2 piala Copa Del Rey, 4 Piala UEFA Super Cup, 4 Piala Super Spanyol, 2 kali juara Liga Primeira, sampai 5 kali terpilih di FIFA FIFPro World XI, dan 6 kali masuk dalam UEFA Team of the Year sudah masuk dalam koleksi gelar yang diraih selama ini. Belum lagi 2 gelar Piala Eropa dan 1 gelar Piala Dunia yang diraih secara beruntun di periode 2008, 2010, dan 2012 saat dirinya menjadi kapten dari salah satu tim nasional terbaik yang pernah ada. Sempurna? Tidak juga.

Pastinya kita semua tahu bahwa Casillas sangat terasosiasi dengan klub yang membesarkan namanya, Real Madrid. Dianggap sebagai salah satu enak emas di Bernabeu, Casillas mencuri hati para penikmat sepakbola pada tahun 2000 silam kala dirinya yang masih berusia 19 tahun berhasil menjadi penjaga gawang termuda yang meraih gelar Liga Champions. Setelah itu, berderet prestasi dan penyelamatan super Ia persembahkan untuk klub yang menjadi cinta sejatinya.

Sayang, saat kita mengira bahwa Casillas akan mengakhiri karier dengan manis di El Real, sosok Jose Mourinho hadir dan merusak semua rencana indah tersebut. Casillas perlahan disingkirkan dan harus mengakhiri kisah manis bersama Real Madrid dengan deraian air mata. Tidak ada perpisahan manis sebagaimana yang kita semua bayangkan.

Namun, itulah yang dinamakan dinamika hidup. Penyelamatan heroiknya menghalau sepakan Arjen Robben di laga final Piala Dunia 2010 menjadi titik tertinggi yang juga tak mungkin rela Ia tukar dengan perpisahan ideal bersama Real Madrid. Sebagai sosok manusia biasa, Santo Iker sudah melakukan yang terbaik.

Ia pernah berujar bahwa di masa pensiunnya Ia ingin dikenang sebagai sosok manusia yang baik, Ia tak perlu diingat sebagai seorang penjaga gawang yang handal karena menjadi sosok pribadi yang baik sudah membuatnya merasa utuh dan berguna bagi banyak pihak. Sebuah ungkapan yang sangat luar biasa, apalagi melihat sosok seorang Casillas yang sangat pantas untuk berbangga diri karena pencapaiannya yang superior.

Sosok ini juga memiliki mental pemenang dan kepemimpinan yang luar biasa. Laga final Liga Champions 2014 menghadapi Atletico Madrid bisa menjadi acuan bagi mereka yang ingin melihat reka ulang kehebatan pemain ini. Ia tak perlu bermain terlalu baik untuk bisa memotivasi 10 rekan di depannya. Sikap ini sungguh menginspirasi dan membuat kita sadar bahwa sepakbola tidak hanya bicara tentang skill dan kerja sama dari 11 orang berbeda di atas lapangan. Ada hal lain yang bisa mempengaruhi dan mengubah jalannya pertandingan.

Kini sang legenda telah menggantung sarung tangan yang telah Ia kenakan selama 22 tahun. Dan bagi saya pribadi, tidak ada penghargaan terbesar bagi seorang pemain daripada cinta yang datangnya tak terbatas dari klub atau negara tempat Ia berkiprah.

Karena jujur, saya sendiri tak perlu mencintai Real Madrid atau sepakbola Spanyol untuk jatuh hati pada sosok penjaga gawang yang satu ini.

Selamat beristirahat Santo. Nikmati hari tenangmu dan tersenyumlah selalu saat melihat apa yang sudah kau berikan selama ini baik di dalam maupun luar lapangan.

Hasta luego El capitan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *