Inggris Yang Akan Selalu Menyedihkan

Jangan emosi dulu. Yang saya maksud di sini bukanlah prestasi timnas Inggris. Saya berbicara tentang para manusia tanpa hati nurani yang menghina dan melakukan aksi rasisme kepada Rashford, Sancho, serta Saka lepas laga final Piala Eropa 2 hari lalu.

Saya sungguh jijik membayangkan bagaimana orang yang sama ini menjadi orang yang mungkin saja berteriak paling kencang saat timnas menang dan bersembunyi dalam senyap kala timnas meraih hasil minor. Selain bersembunyi, orang-orang tak beradab ini memulai aksinya dari balik layar. Tak perlu kita bahas lebih jauh, kalian sudah paham bentuk dan jenis hinaan mereka pada pemain berkulit hitam di tim nasional Inggris tersebut.

Memang hal ini diimbangi pula oleh dukungan masif yang terbukti dari bagaimana mereka secepat kilat melakukan aksi timpal balik pada gambar mural Rashford yang sempat diperlakukan tidak layak. Sebuah bentuk kemanusiaan yang menggugah melihat masih ada cinta yang begitu besar pada para anak muda yang sudah membuat negeri Ratu Elizabeth tersebut bermimpi. Namun, selama manusia masih menjadi makhluk paling berkuasa di atas muka bumi, aksi rasisme dan cyber bullying ini tidak akan menjadi yang terakhir. Mau tidak mau, hal ini akan terus berulang. Selama kebebasan bersuara masih ada, hal ini hanya bisa kita cegah tanpa bisa kita halangi sepenuhnya.

Saya juga heran bagaimana bisa banyak pihak memuji aksi Yann Sommer dan Kasper Schmeichel saat tim mereka kalah dan seakan menutup mata pada kehebatan Jordan Pickford selama Piala Eropa berlangsung? Memang supporter Inggris ini mayoritas tidak tahu diuntung!

Terlepas dari kesedihan dan segala polemik di laga final, dalam waktu kurang lebih 17 bulan, Inggris diharapkan akan kembali bermain di pentas Piala Dunia 2022 Qatar. Tentu dengan pencapaian positif timnas Inggris semenjak tahun 2018, ada ekspektasi yang semakin tinggi melihat bagaimana mereka juga melaju hingga partai puncak di Piala Eropa 2020. Jika bisa segera pulih dan menyembuhkan luka ini, para anak asuh Southgate diharapkan hanya akan menuju ke arah yang lebih baik. Masih berada pada usia muda dan usia emas untuk para pilar tim ini, Inggris bisa saja mendapatkan hadiah yang lebih besar di tahun depan.

Yang menyedihkan adalah bagaimana prestasi tim nasional ini tidak akan berbanding lurus dengan arogansi para hooligans yang memang sulit untuk kita apresiasi. Kesombongan serta tingkah mereka saya jamin akan menimbulkan banyak masalah baik saat Inggris terjegal seperti sekarang atau saat Inggris nantinya menjadi tim terbaik dunia sekalipun. Bisa bayangkan betapa sumbangnya suara para hooligans ini andai Inggris berhasil keluar sebagai juara? Saya rasa mereka yang tadinya ikut senang pun bisa ikutan muak karena aksi para oknum yang kelewatan batas tersebut. Masuk final saja gayanya sudah selangit apalagi keluar sebagai juara? Mereka bisa lupa menunduk dan ujung-ujungnya tetap saja menimbulkan kerugian bagi pihak yang terlibat.

Jika ingin menjadi juara di dalam dan luar lapangan, ada baiknya federasi sepakbola Inggris melakukan aksi tegas. Mungkin bisa mengambil contoh dari beberapa kasus kelam di masa lalu. Tentu lebih baik mencegah daripada terus mengobati luka seperti ini bukan?

Nampaknya, mau juara ataupun tidak, akan lebih banyak kontra yang terjadi akibat tindak tanduk penduduk lokal di Inggris. Dan entah mengapa, pikiran saya melayang tak jauh dari apa yang terjadi pada sepakbola Indonesia selama ini.

Prestasi tertinggi selama 55 tahun pun pada akhirnya harus diakhiri dengan berita kurang baik dan perdebatan akan isu yang tak lagi seharusnya terjadi. Sungguh menyedihkan.

Sulit rasanya membayangkan apa yang harus dialami Southgate dan anak asuhnya. Percayalah ini hanyalah sebuah titik dalam hidup yang harus dilewati. Perjalanan masih panjang. 17 bulan tentu bukan waktu yang terlampu lama bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *