Kebiasaan Yang Memberi Harapan

Lagi – lagi, Liverpool akan menjalani laga hidup mati di penghujung babak grup Liga Champions. Bertandang ke Salzburg di Austria, Liverpool harus menghindari kekalahan jika tak mau beresiko terlempar dari kompetisi yang mereka juarai musim lalu. Sebagai sang juara bertahan, Liverpool tentu lebih diunggulkan. Melihat prestasi mereka sepanjang musim ini yang juga belum terkalahkan di Liga Primer, Liverpool seharusnya patut percaya diri. Namun, hasil minor kala melawan Napoli serta nyaris terkejar kala bermain untuk kali pertama menghadapi Salzburg seakan jadi sinyal pertanda bahaya. Sekali saja lengah, musim sempurna Liverpool bisa jadi akan ternoda dini hari besok (WIB).

Jadwal sangat padat di bulan Desember ini menjadi penghalang yang harus dilewati Liverpool demi mencapai kesempurnaan. Jadwal gila akhir tahun plus laga menentukan di Eropa dan laga di Piala Carabao serta Piala Dunia Antar Klub bisa memupus harapan para Kopites untuk tersenyum lega di akhir musim. Namun, bukan Liverpool namanya kalau tidak mampu keluar dari lubang jarum alias situasi terjepit.

Bicara perihal lolos dari lubang jarum di Eropa, Liverpool seakan mengalami deja vu. Saat menjadi juara di 2 edisi musim 2004/2005 dan 2018/2019, Liverpool baru memastikan diri lolos dari babak grup pada pertandingan terakhir. Saat tensi sedang tinggi – tingginya, gol tendangan geledek Steven Gerrard dan penyelamatan krusial Alisson Becker menjadi langkah awal keberhasilan Liverpool keluar sebagai jawara Eropa di penghujung masing – masing musim.

Musim 2019/2020, Liverpool bisa dibilang merupakan salah satu tim paling kuat dan konsisten di dunia. Skuad yang merata, pelatih yang dicintai para fans, serta momentum yang terus berada di pihak mereka jadi modal utama. Menjinakkan Erling Braut Haaland yang tengah menjadi properti panas di sepakbola Eropa akan jadi tugas berat. Klopp sendiri mengakui bahwa Liverpool akan berusaha semaksimal mungkin agar sang pemain tak mampu banyak menerima bola. Meski tentunya perhatian tidak akan mereka curahkan sepenuhnya hanya pada Haaland.

Meski demikian, para Kopites boleh optimis. Liverpool punya kebiasaan yang menumbuhkan keyakinan. Jika bisa keluar dari babak grup, bukan tidak mungkin kejayaan musim lalu di Eropa akan terulang. Tentu lebih manis andai pencapaian tersebut juga bisa mereka lakukan di tanah Inggris, tempat mereka telah berpuasa untuk 30 tahun lamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *