Kegagalan Yang Terstruktur

Selamat kepada Villareal dan Unai Emery yang berhasil meraih gelar juara UEFA Europa League musim 2020/2021. Hasil ini menegaskan status Emery sebagai rajanya kompetisi ini dengqn 4 gelar yang Ia peroleh. Villareal sendiri mendapatkan trofi elit pertama mereka dalam sejarah dan menjadi tim dari kota berpenduduk paling sedikit yang pernah menjuara kejuaraan Eropa (Villareal hanya memiliki 50 ribu jumlah penduduk).

Hasil imbang 1-1 memaksa hasil akhir ditentukan melalui drama babak adu penalti. 22 pemain melakukan tendangan penalti dengan jumlah 1 buah sepakan yang gagal hasil eksekusi penjaga gawang Manchester United, David De Gea. Meski demikian, kegagalan United jauh lebih kompleks dari sekedar kegagalan seorang penjaga gawang dalam mengeksekusi tendangan penalti.

Ole Gunnar Solksjaer mau tak mau harus mengakui keunggulan dari Unai Emery. Di final pertamanya, Ole memang terlihat kalah jam terbang. Namun tentu hal ini bukanlah suatu kejutan. Menghadapi tim yang bermain dengan bertahan lebih dalam, Ole praktis selalu mengandalkan kemampuan individu para pemain bintangnya. Tinggal berharap saja salah satu atau semua pemain bernama Bruno Fernandes, Paul Pogba, Edinson Cavani, atau Marcus Rashford melakukan aksi individu spektakuler yang menghasilkan gol ke gawang lawan. Jika strategi tersebut tak berjalan baik, Ole tak punya banyak rencana cadangan lain. Oleh sebab itu ada alasan mengapa United begitu baik saat bermain di kandang lawna. Tim tuan rumah yang bermain lebih terbuka dipaksa menelan proses serangan balik kilat andalan United era Ole. Selesai.

Di laga kali ini, saat United gagal meraih kemenangan dalam 90 menit, Ole seakan pasrah dan malah terlihat mengincar babak adu penalti. Pergantian pemain yang dirasa kurang tepat serta ketidakberaniannya menggantikan David De Gea menjadi bukti bagaimana Ole belum bisa memberikan dampak nyata perubahan dalam tubuh tim yang membesarkan namanya tersebut. De Gea belum menyelamatkan 1 tendangan penalti pun dalam waktu 6 tahun terakhir. Termasuk babak adu penalti ini, De Gea kebobolan 36 tendangan penalti secara beruntun. Saat Bruno Fernandes berhasil melesakkan 32 gol melalui 33 tendangan penalti terakhirnya, apakah kedua pemain ini sering berlatih tendang penalti di ajang latihan tim selama ini? Nampak konyol membayangkan kedua pemain ini berjibaku di sesi latihan tersebut.

Kegagalan Ole dalam membentuk sebuah struktur gaya bermain bagi United akhirnya dipertegas melalui kegagalan De Gea. Keberhasilan Ole pun nyaris tak berarti tanpa trofi dalam 2 setengah musim Ia melatih. United sendiri sudah berpuasa selama 4 musim dalam urusan meraih gelar juara. Peningkatan musim ini pun terjaid lebih dikarenakan performa individu Bruno juga Cavani yang seringkali menyelamatkan United dari kekalahan.

Hasil ini seakan menjadi cambuk yang harus memecut Ole untuk bisa menunjukkan hasil nyata di atas lapangan. Jujur saja, lupakan dulu gelar juara andai cara bermain yang pasti saja belum bisa diracik sang pelatih. Andai mendapatkan dana belanja lebih dan berhasil mendatangkan pemain super lainnya seperti Kane dan Sancho, hasil positif United mungkin saja lagi-lagi terjadi karena performa apik sang mega bintang, bukan karena skema bermain yang apik dan ditakuti lawan.

Jadi, kegagalan ini sudah bisa diprediksi meski tentu saja ada faktor nasib yang bermain di sini. Ole dan United harus berbenah. De Gea hanyalah pemain yang tak beruntung dan menjadi tumbal dari segala kebobrokan sistem dan struktur dari Ole selama ini.

Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *