Muka Lama Manchester United

Akhir pekan lalu, dunia dikejutkan dengan saga transfer salah satu pemain terbaik dunia yang pernah ada, Cristiano Ronaldo. Sempat diisukan segera merapa ke sisi biru kota Manchester, nyatanya Ronaldo kembali pulang ke rumah yang membesarkan namanya, Manchester United.

Tak perlu panjang lebar kembali menjelaskan asal muasal rampungnya mega transfer ini, kita akan membahas bagaimana Ronaldo akan membantu Manchester United meraih kemenangan dengan cara yang menyebalkan layaknya yang terjadi di masa lampau. Mulai dari keputusan wasit yang sering memihak kubu United, gol-gol pembalik keadaan, gol menit akhir, sampai meraih kemenangan dengan cara yang tidak elok namun efektif meraup 3 poin.

Tanda-tanda tersebut mulai terlihat pada laga kemarin malam (WIB) saat United berhasil lolos dari kekalahan setelah tampil buruk sepanjang 90 menit atas Wolverhampton Wanderers. Wolves yang berkesempatan mencetak 3-4 gol nyatanya gagal mencetak gol sama sekali dan malahan harus menelan kekalahan 0-1 berkat gol semata wayang Mason Greenwood.

United yang sebenarnya lebih membutuhkan seorang gelandang bertahan musim ini ternyata memilih untuk mengembalikan DNA mereka dengan pembelian impulsif sang legenda. Di usianya yang ke-36 tahun, Ronaldo tentu tak lagi sama dengan sosok yang 13 tahun lalu hijrah ke Real Madrid. Kini Ronaldo memang masih berbahaya dan dijamin menjadi momok di depan gawang lawan, namun, kali ini tanpa sumbangsih nyata lainnya di atas lapangan. Hal-hal seperti membangun motivasi, mental, hingga menjadi sosok panutan di ruang ganti adalah hal kasat mata yang tak bisa kita lihat secara langsung. Toh tak selamanya sosok besar seperti Ronaldo berhasil membuat suasana ruang ganti lebih baik. Ego beberapa pemain depan United tentu akan terusik dengan kedatangan mendadak Ronaldo. Meski mungkin berimbas positif pada performa di lapangan, nuansa nostalgia akan lebih erat terasa saat Ronaldo nanti kembali merumput. Secara teknis, United tak banyak berubah dengan kedatangan Ronaldo di era ini.

Ole Gunnar Solksjaer akan diuji atas keputusan dadakan yang Ia buat. Kemenangan beruntun yang impresif di kandang lawan nyatanya tak mencerminkan gaya dan cara bermain yang sudah konsisten. United lebih sering meraihnya dengan cara mereka di era Sir Alex. Bermain pas-pasan, bertahan secara baik, terkadang kebobolan terlebih dahulu, untuk kemudian berbalik menang di paruh kedua laga. Dan kedatangan Ronaldo akan semakin menguatkan perasaan nostalgia tersebut.

Muka lama Manchester United tentunya menjadi sosok yang menyebalkan bagi setiap lawan mereka. Jika benar Ronaldo bisa begitu efektif di depan gawang dan terus menjadi pembeda, maka mungkin saja sosok gelandang bertahan yang diidam-idamkan para fans United takkan segera hadir pada musim panas kali ini.

Terkadang, sisi teknis dan prakiraan di atas kertas tak selamanya harus selalu dipenuhi untuk meraih hasil yang maksimal. Dan sosok Cristiano Ronaldo sangatlah cocok sebagai faktor anomali di atas bagi Manchester United musim ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *