OG Kalah Terus, Ceb Ungkap Tiga Sebab Patch 7.26 Buruk!

Mantan offlaner kini pemegang peran direktur teknik tim DOTA 2 OG, Ceb mengungkapkan kebenciannya terhadap patch DOTA 2 7.26. Dalam sebuah stream, ia beralasan kalau patch saat ini sangat noob-friendly.

Ada 3 poin yang ia rasa mempengaruhi gameplay secara keseluruhan dan mungkin jadi penyebab menurunnya performa OG belakangan. Terakhir, OG harus tersingkir dari turnamen Beyond Epic setelah tumbang oleh Virtus.pro di babak playoff yang berlangsung semalam (25/6).

Pertama, ia menyoroti insignifikansi ganking yang dilakukan oleh midlaner di meta saat ini. Pemain midlane yang berotasi akan kehilangan gold dan xp lebih banyak bila mereka meninggalkan lane dan mencari kill di awal permainan.

Tentu, pemain seperti Topson yang terkenal agresif sangat terdampak dengan update ini. Topson kerap bergerak kesana-kemari meski cuma bermodal botol dan sepatu coklat. Sementara, situasi saat ini membuat hero yang bertahan di lane lebih diuntungkan karena mereka menjaga pendapatan xp dan gold dari kontestasi creep.

Ini jadi alasan mengapa lebih banyak hero midlane yang bertransisi ke sidelane, contohnya Ember Spirit, Quenn of Pain dan Dragon Knight karena mereka lebih konsisten dalam laning dan mampu menyarangkan early kill tanpa perlu bergerak terlalu jauh dari lane.

Sedangkan di mid, hero yang scalingnya kurang baik di late game mulai jadi alternatif pilihan macam Batrider, Visage, Nature Prophet sampai Death Prophet. Hero seperti ini tak perlu banyak bergerak karena permainan bakal terpusat dari ultimate mereka. Dengan skill pamungkas yang handal meruntuhkan tower, mereka bisa melakukan rotasi kemudian waktu setelah proses farming mencukupi.

Kedua, membunuh carry lawan ternyata merugikan offlaner. Mengapa bisa? Carry lawan biasanya terlindungi oleh support yang siap bertukar serangan. Andai kata offlaner mampu membunuh carry musuh, hampir dipastikan pergulatan tersebut menyebabkan darah dari sang offlane juga mendekati habis.

Ketimbang membuang waktu farming dan kembali ke markas, offlaner lebih memilih membeli banyak item konsumsi untuk mengembalikan darah dan mana mereka. Hal ini terbilang merugikan karena kill di awal game tak lagi se-cuan itu. Bahkan, untuk membeli item-item macam Healing Salve, Mango atau Clarity bakal lebih boros ketimbang bounty yang mereka dapat sehabis membunuh carry.

Sedikit banyak, hal ini berimplikasi pada beberapa pertandingan DOTA 2 kurang menarik di awal game. Belakangan, beberapa tim lebih bermain aman, menjaga lane dan farm, sementara membiarkan support yang bergerak untuk membantu terciptanya kill.

Ketiga, efek Necronomicon yang berlebihan. Item buku pemanggil dua prajurit mini kian populer di patch ini. Tak cuma komponennya murah, namun efek yang diberikan meriah. Necronomicon atau yang disebut juga Necro Book adalah item hasil penggabungan 2 Sage’s Mask dan Belt of Strength. Dua itme yang harganya tak sampai 500 gold. Meski begitu, dua Sage’s Mask sudah menolong regenerasi mana para hero saat laning, lebih tahan lama ketika melakukan spam skill untuk tujuan farm ataupun kontes kill.

Plus, Necro Book punya bonus aura saat sudah jadi. Pasukan mini menyebalkan ini punya buff movement speed, attack speed dan true sight di level 3. Alhasil, item ini sangat laris digunakan oleh banyak hero bahkan carry yang sebelumnya tak membutuhkan Necro Book, contohnya Spectre, Viper atau Visage.

Dengan banyaknya pengguna Necronomicon, DOTA 2 sedang memasuki meta “Zoo” alias kebun binatang dimana hero yang punya kemampuan summon atau mengkontrol creep jadi andalan. Chen, Lycan, Enchantress, Beastmaster mencuat sebagai top pick di berbagai turnamen karena piawai dalam push tower atau objektif yang jadi poin paling krusial dalam memenangkan game ataupun sekedar mendapat sumber gold memadai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *