Titik Lemah

Everton secara beruntung mampu mempertahankan rekor tak terkalahkan mereka sejauh ini di ajang Liga Primer. VAR dan keputusan wasit untuk tidak mengusir Jordan Pickford dari lapangan di awal laga menjadi berkah terselubung bagi tim asuhan Carlo Ancelotti ini.

Banyak orang beranggapan bahwa Everton akan menjadi kambing hitam yang membahayakan supremasi tim – tim besar Inggris musim ini. Meski berhasil meraih hasil 4 menang dan sekali seri sejauh ini, Everton punya titik lemah yang bisa membuat perjalanan mereka ke depan menjadi sulit. Andai tidak dibenahi, Everton dijamin akan kehilangan banyak poin berharga yang bisa menghilangkan momentum mereka musim ini.

Menyaksikan gaya bermain Everton sejauh ini, mereka bermain dengan menyesuaikan gaya bermain lawan dan seringkali mengandalkan bola mati untuk merubah keadaan. Serangan balik juga menjadi senjata mereka musim ini setelah kedatangan James, Allan, serta Doucoure membuat perubahan transisi bertahan ke menyerang The Toffees jauh lebih mulus. Hal ini didukung dengan dua bek sayap menyerang dari Digne dan Coleman yang semakin padu dan efektif dalam memberikan umpan silang serta tajamnya Calvert-Lewin di depan gawang.

Sayangnya, ada dua titik lemah yang harus segera dibenahi agar perjuangan para pemain menyerang ini tak sia – sia. Pertama, sisi emosional pemain yang perlu ditekan. Richarlison tanpa diragukan adalah sosok pemain berbakat. Sayangnya, emosi sang pemain yang seringkali meledak – ledak ini kerap merugikan timnya sendiri. Banyaknya peluang emas yang Ia lewatkan menjadi bukti bagaimana Richarlison kurang tenang dan tidak efektif dalam mematikan permainan di situasi penting. Selain itu tekel horornya kepada Thiago jadi bukti lain. Tekelnya yang tidak penting tersebut memberikan Everton kesulitan di masa – masa krusial akhir pertandingan. Everton pun harus kehilangan salah satu pemain terbaiknya di pertandingan berikut yang bertujuan untuk mengembalikan momentum kemenangan di 4 pertandingan awal.

Titik lemah kedua Everton ada pada diri Jordan Pickford. Meski berstatus sebagai penjaga gawang nomor 1 Inggris, saya selalu melihat bahwa puncak permainan Pickford terjadi pada saat Piala Dunia 2018 silam. Setelahnya, Ia lebih sering disorot karena kecerobohannya dalam menjaga gawang Everton. Yang terbaru, Ia melakukan tekel gunting yang sudah selayaknya diganjar kartu merah. Hal ini bahkan juga mengakibatkan Virgil Van Dijk menderita cedera ACL hingga harus menepi dalam waktu yang cukup lama. Meski tentu dilakukan tanpa sengaja, aksi Pickford terlihat bagai aksi penjaga gawang amatir. Jika bukan karena alasan sudah offsidenya posisi Van Dijk, Everton bisa saja akan menelan kekalahan pertama mereka karena kartu merah yang pantas didapat Pickford.

Meski memang memiliki tendangan yang baik dan bagus sebagai seorang shot-stopper, Pickford lebih sering melakukan hal – hal yang kurang meyakinkan di bawah mistar gawang. Entah bagaimana, Ia kerap mampu melakukan penyelamatan sulit dan malah kebobolan karena gol – gol mudah. Jika bukan karena rekan setimnya dan VAR, Pickford pasti sudah menjadi pesakitan bagi Everton. Yang juga baru saja terjadi, tendangan mendatar Henderson yang tak terlalu kencang juga gagal diantisipasi dengan baik oleh Pickford. Bola malah merambat naik melewati tangan Pickford dan masuk ke dalam gawang. Beruntung, teknologi baru yang kita benci itu menganulir gol ketiga Liverpool karena posisi Mane yang dianggap sudah offside saat menerima umpan cantik Thiago. Jadi, jangan tertipu dengan statistik yang menuliskan kalau Pickford hanya melakukan 1 kali eror berujung pada kebobolan.

Jika mau mengulang cerita sukses Leicester beberapa musim lalu, Ancelotti harus segera memperbaiki dua hal di atas. Kita tahu bagaimana musim 2015/2016 lalu Ranieni cepat berbenah menambal lini pertahanan Leicester yang cukup rentan. Dan perlu dicatat, musim itu Kasper Schmeichel tampil solid dan hampir tidak melakukan kesalahan berarti. Ia mendukung solidnya para pemain di depannya serta menjadi pembeda yang terus memberikan 3 poin hingga Leicester berhasil membuat keajaiban.

Perlu dicatat bahwa setajam apapun lini serang Everton, mereka perlu Pickford yang bisa memberikan mereka rasa percaya diri dan aman saat mengalami kebuntuan. Efektifitas seperti apapun akan percuma andai penjaga gawang tak bisa memberikan poin penting karena kebobolan gol mudah. Lihat saja apa yang terus terjadi pada Chelsea, Jika bisa bermain lebih tenang, Kepa pasti sudah jadi pahlawan karena mampu melakukan penyelamatan yang memberikan 3 poin bagi Chelsea.

Entah bagaimana nantinya Ancelotti bisa merubah tindakan sembrono Pickford serta sifat emosional Richarlison. Jika mampu merubah 2 hal di atas secara cepat, maka Everton baru bisa benar dianggap sebagai penantang serius posisi atas Liga Primer musim ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *