Tugas Sebenarnya Freddie

Freddie Ljunberg ditunjuk karena berhasil merebut hati para petinggi Arsenal kala melatih tim U-23 Arsenal. Selain itu, Ljunberg adalah pemain legenda yang jadi bagian penting dari skuat Invincibles Arsenal di era 2000an awal. Kefasihannya dalam berkomunikasi dengan para pemain juga jadi nilai lebih yang membuatnya disukai serta dikagumi. Jadi, kombinasi pemain – pelatih layaknya Ole Gunnar Solksjaer dan Frank Lampard kini menular ke Arsenal. Mengembalikan DNA tim adalah tugas wajib bagi para pelatih muda ini.

Pertanyaannya, benarkah demikian?

Freddie Ljuenberg hanya menjabat sebagai pelatih interim. Artinya, bisa saja Ljunberg akan segera digantikan oleh pelatih yang lebih berpengalaman andai pihak Arsenal menilai kinerjanya tak memuaskan. Atau mungkin memang dari awal Ljunberg hanya dipasang sebagai jembatan peralihan antara sistem kepelatihan lama ke yang baru. Apapun itu, Ljunberg harus tau bahwa tugas sebenarnya adalah kembali menghadirkan senyuman dan optimisme para Gooners di seluruh dunia. Dan jika mau hal tersebut cepat terealisasi, mungkin saja mengembalikan DNA Arsenal adalah awal yang……salah.

Berbicara DNA, Arsenal memang menjadi salah satu kekuatan utama sepakbola Inggris di awal era modern medio 1997 – 2006. Sayangnya, setelah itu pun Arsene Wenger sebagai pelatih Arsenal terdahulu harus kelimpungan karena masalah beban biaya stadion baru. Setelahnya, praktis Arsenal terus dihujani berbagai macam persoalan yang membuat mereka hanya mampu keluar sebagai juara piala FA sebanyak 3 kali dalam 15 tahun terakhir. Mulai dari terus hengkangnya pemain bintang karena ketidakjelasan masa depan, lini belakang yang sering menjadi lelucon, sampai cara bermain yang tidak konsisten layaknya sebuah tim kelas 2. Bukan bicara soal taktik tapi konsistensi level permainan setiap individu para pemain yang sebenarnya berada di kategori pemain top dunia.

Jika dalam 10 tahun terakhir saja Arsenal terus digerogoti oleh permasalahan di atas, saya curiga jangan – jangan itulah DNA asli Arsenal yang melekat saat ini. Mengutip artikel Jonathan Liew, saya sangat setuju bahwa jangan – jangan tugas sebenarnya yang harus dilakukan Ljunberg adalah mengubah, bukan mengembalikan DNA Arsenal. Ljunberg telah berpisah cukup lama dari klub ini. Mungkin tanpa sadar, Ljunberg pun sulit mengakui bahwa Arsenal di masa kini bukanlah Arsenal yang Ia kenal dulu.

Tanpa Leno dan Aubameyang, Norwich mungkin tengah berpesta karena berhasil melakukan giant killing di tengah usaha mereka menjauhi zona degradasi. Meski mungkin tak lagi pantas disebut sebagai raksasa, dengan segala hormat level Arsenal jelas berada 2 – 3 level di atas Norwich. Ljunberg yang baru melakukan 1 sesi latihan bersama tim utama tentu masih butuh adaptasi. Proses kepergian Unai Emery yang terlalu berlarut – larut semakin membenamkan DNA terkutuk ini ke dalam tubuh Arsenal.

Masalah Arsenal sudah bukan permasalahan sederhana seperti siapa yang bermain sejak awal maupun masalah pergantian pemain hingga taktik di atas lapangan. Seluruh pemain dan staff benar – benar butuh lahir baru. Perubahan tidak bisa dilakukan setengah – setengah. Menurut saya pribadi, butuh sosok yang lebih besar dari Ljunberg saat ini. Semoga saja jika prediksi saya benar, setidaknya Ljunberg bisa menyiapkan jembatan terbaik di masa – masa kritis ini. Saya yakin Ljunberg bisa melakukannya andai mau sedikit lebih berani. Jujur saja, tak ada lagi yang perlu Arsenal takuti saat ini. Resiko apapun harus berani mereka tempuh. Arsenal harus berani bermain lumpur saat tengah berada di dalam kubangan medioker seperti saat ini.

Andai tidak cepat – cepat sadar, Ljunberg bisa saja akan mengalami hal yang tak jauh berbeda dengan Ole di United saat ini.

Cepatlah bertindak Freddie!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *