We’ve Got Özil

254 penampilan di seluruh kompetisi dengan sumbangsih 44 gol dan 77 assist. Tentu bukan catatan yang terlampau istimewa mengingat pemain yang mencatatkan hasil tersebut adalah pemain sekelas Mesut Özil. Raihan 4 buah Piala FA serta 2 Piala Community Shield juga tentu bukan raihan spesial mengingat betapa spesialnya pemain yang dikenal sebagai king of assist.

Tak ada raihan pemain terbaik di Inggris, trofi utama Liga Primer, atau trofi di kancah Eropa yang berhasil disumbangkan Özil. Harapan akan berubahnya nasib Arsenal dari tim becandaan menjadi tim yang disegani nampaknya tak berjalan mulus. Arsenal masih saja berkutat pada pusaran yang sama, bahkan kini cenderung lebih payah dibanding pertama Özil bergabung.

Kecewa dengan pencapaiannya? Entahlah. Sulit bagi saya yang pribadi adalah seorang gooners untuk menjawabnya.

Deadline day musim panas 2013/2014 kala itu adalah salah satu momen paling gila yang pernah saya rasakan selama jatuh dan terus mencintai olahraga sepakbola semenjak 2002 silam. Tanpa disangka, sang juru selamat turun dari ibukota Spanyol dan berjanji akan memberikan segenap magisnya untuk mengembalikan Arsenal ke posisi dimana mereka seharusnya berada. Pemain tersebut datang dari Real Madrid dengan sederet prestasi memukau dan kala itu, berada pada usia keemasannya. Jersey bernomor punggung 11 habis terjual seketika saat Özil resmi diperkenalkan oleh media resmi Arsenal.

Assist pertamanya kepada Giroud di laga debut menghadapi Sunderland. Gol indah pertamanya ke gawang Napoli di ajang Liga Champions. Performa luar biasanya di musim 2015/2016 yang nampak dijegal semesta, duet apiknya dengan Alexis, Santi Cazorla, hingga Aaron Ramsey, assistnya ke kepala Welbeck kala menghadapi Leicester, gol indah ke gawang Manchester United, solo gol spektakuler ke gawang Ludogoretz, sampai periode kejatuhannya semenjak rezim Arsene Wenger digantikan Unai Emery hingga Mikel Arteta saat ini. Semuanya nampak terjadi dalam sekejap mata. Tak terasa, hampir 8 tahun sudah semua hal tersebut dilewati Özil selama berseragam merah putih Arsenal.

Tidak ada kekecewaan berlebihan menghadapi kepergian sang pemain yang sudah banyak diprediksikan semenjak musim 2020/2021 bergulir. Yang ada mungkin perasaan getir melihat bagaimana harapan tersebut begitu besar dan memberikan kebahagiaan meski hasil akhirnya tak selalu mulus berjalan sesuai harapan. Özil datang sebagai simbol bahwa Arsenal siap untuk berubah. Sayangnya, sepakbola tidak semudah itu. Pemain satu-satunya yang menjadi raja assist di semua ajang yang pernah Ia ikuti tersebut mengalami banyak sekali kendala mulai dari hal paling teknis hingga hal-hal tak terungkap yang menjadi pemicu utama hengkangnya sang pemain ke Fenerbahce pada jendela transfer musim dingin kali ini.

Sosok Özil sebagai legenda Arsenal tentu menjadi perdebatan lain. Simbol harapan dan legenda adalah 2 hal yang sangat berbeda. Meski berhasil menjadi sumber pengharapan banyak pihak, nyatanya Özil juga mengecewakan banyak pihak karena statusnya tersebut. Status pemain paling mewah yang pernah dimiliki Arsenal memang jadi beban tersendiri baginya. Percayalah, sehebat-hebatnya pembelian Alexis hingga Aubameyang, Özil berdiri di level yang berbeda. Ia benar-benar berada pada puncak penampilannya kala tiba di Emirates. Piala Dunia 2014 bahkan menjadi bukti bagaimana pemain ini sungguh memberikan harapan akan sesuatu yang selama ini diidamkan gooners di seluruh dunia.

Kini, petualangan Özil sudah menemui akhirnya di Arsenal, klub yang mungkin lebih terasosiasi dengannya dibandingkan Real Madrid maupun klub yang Ia bela sebelumnya. Tak ada laga perpisahan, atau pun aksi-aksi menawan yang sempat Ia berikan sebagai tanda kepergiannya. Perih. Sedikit tidak rela mungkin lebih tepat sebagai bentuk rasa yang pribadi saya rasakan saat ini.

Özil adalah kasih tak sampai yang akan terus melekat dalam ingatan. Ia pernah menjadi bagian terpenting dalam tim ini, dan berakhir sebagai pemain yang pergi dengan rasa pahit serta banyaknya pertanyaan tak terjawab menyikapi perlakuan yang Ia terima.

Terima kasih atas semua harapan serta aksi memukau yang membuat saya semakin mencintai sepakbola. Terima kasih sudah mau singgah di klub bernama Arsenal meski semua tak berakhir sesuai yang kami kira.

Tak perlulah menjadi legenda yang diakui secara resmi jika berhasil mencuri jutaan pasang hati yang tahu arti sebenarnya dari kriteria seorang legenda di dunia sepakbola. Tak harus bergelimang prestasi, melakukan pertandingan perpisahan, ataupun menuai pujian dari pemain-pemain lainnya, namun hanya perlu tetap dikenang meski roda waktu terus bergulir dan menghadirkan cerita lain melalui pemain yang berbeda di kemudian hari.

Sayonara Özil.

We’ve got Ozil… Mesut Ozil… I just don’t think you understand. He’s Arsene Wenger’s man, He’s better than Zidane, We’ve got Mesut Ozil….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *