Cerita Kelam Di Balik Golden Boy Award - Berita Olahraga | Betting Online | Kasino Online

Cerita Kelam Di Balik Golden Boy Award

Golden Boy Award kembali hadir guna memberikan apresiasi bagi para pesepakbola muda terbaik di bawah usia 21 tahun. Seperti yang kita ketahui, beberapa nama pemain muda yang meroket di musim lalu seperti Kyllian Mbappe, Ousmane Dembele, Marcus Rashford, hingga Christian Pulisic menjadi kandidat-kandidat kuat untuk memboyong bola emas tersebut tahun ini. Para pesepakbola muda ini jelas bermimpi untuk mampu memenangkan penghargaan bergengsi tersebut dan mengikuti jejak pemenang terdahulu mereka seperti Lionel Messi, Neymar, Sergio Aguero, Cesc Fabregas, maupun Wayne Rooney yang tergolong berhasil terus mempertahankan kesuksesan mereka hingga saat ini.

Berbicara tentang perghargaan tersebut, banyak sekali pesepakbola muda yang dipuji akan menjadi “the next big thing” namun gagal memenuhi ekspektasi menyusul keberhasilan mereka menggondol si bola emas di usia muda. Ada nama-nama beken seperti Alexander Pato, Mario Balloteli, Anderson, hingga Renato Sanchez yang mampu memenangkan penghargaan Golden Boy Award namun lalu gagal memenuhi ekspektasi masyarakat kepada mereka. Pato dan Balotteli bahkan sempat dibicarakan sebagai penyerang terbaik dunia masa depan namun malah gagal unjuk gigi di usia emas mereka saat membela AC Milan dan juga Liverpool terlepas dari segala cedera yang mereka alami. Anderson sendiri sempat menjadi andalan utama Manchester United dibawah kepemimpinan Sir Alex Ferguson kala menguasai Eropa di tahun 2008. Hanya masalah indisipliner membuatnya berubah menjadi sosok pesakitan yang tidak mampu bermain di level teratas bersama United.

Sosok terbaru dari korban pemenang Golden Boy Award adalah gelandang muda sensasional Portugal kala mereka berhasil mengejutkan Eropa tahun lalu di Perancis. Pemuda bernama Renato Sanchez itu merupakan salah satu sosok sentral di timnya terdahulu Benfica dan juga tim nasional Portugal yang dipimpin Cristiano Ronaldo. Kepiawaiannya dalam menjadi jenderal lapangan tengah membuat tim-tim besar berebutan untuk mendapatkan jasanya musim panas lalu. Dan alhasil, ia berhasil berlabuh di salah satu klub terbesar dunia, Bayern Muenchen.

Namun sayang, Sanchez nampak terlalu percaya diri dan tidak memikirkan perkembangan karirnya secara matang. Persaingan untuk mendapatkan posisi utama di lini tengah mengharuskannya berjibaku dengan gelandang level satu seperti Arturo Vidal dan juga Xabi Alonso. Belum lagi kehadiran Javi Martinez yang juga masih sesekali digunakan Ancelotti sebagai gelandang tengah dalam beberapa pertandingan.

Usia muda biasa dimanfaatkan bagi para pesepakbola untuk mendapatkan jam terbang dan pengalaman bermain secara reguler. Hal tersebut nyatanya tidak didapatkan Sanchez di Jerman dan memaksanya duduk sebagai penghangat bangku cadangan tanpa banyak kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan aslinya seperti pada saat membela Portugal dan Benfica.

Kini Sanchez harus rela dipinjamkan ke tim Inggris Swansea City guna mendapatkan lebih banyak waktu bertanding. Bukan hal tabu mengingat usianya yang masih sangat muda. Hanya saja pelatih Swansea, Paul Clement pun nampak kebingungan untuk menempatkan Sanchez dalam pertandingan liga yang sangat berbeda dengan saat ia berada di Jerman maupun Portugal.

Tentu saja dibalik fakta kelam diatas, ada nama-nama seperti Lionel Messi yang mampu terus mempertahankan level permainan mereka di tingkat tertinggi. Hanya saja, diperlukan perjuangan serta kerja keras yang tidaklah mudah. Dan terlepas dari usaha diatas lapangan ataupun di dalam sasana, ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh para pemain muda tersebut. Kepentingan utama mereka adalah bermain secara reguler dalam tim yang mampu mengembangkan potensi mereka ke batas maksimal. Keputusan mereka untuk menentukan nasib mereka terletak pada cara mereka berespon terhadap segala tawaran dan iming-iming uang yang semakin menggila di dunia sepakbola masa kini.

Jadi apakah pindah ke tim besar di usia muda seperti yang dilakukan Sanchez adalah hal tabu? Tidak juga jika kita melihat apa yang dilakukan Dembele ke Barcelona, Mbappe saat hijrah ke Paris Saint German, maupun Pogba saat kembali pulang ke Manchester United. Mereka tahu mereka datang karena ada peluang dan posisi yang memang sangat membutuhkan jasa merekam tidak seperti Sanchez yang bisa dibilang datang karena tergoda oleh nama besar dari klub seperti Bayern.

Popular News

IMG_4202
Sabar/Reza Juara Spain Masters, Menang Dramatis Lawan Malaysia
31 March 2024
Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani berhasil menjuarai Spain Masters...
8
Duet Gia dan Megawati Pencetak Poin Red Sparks Musim Ini
31 March 2024
Giovanna Milana alias Gia menyatakan tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada...
navii
NAVI melaju ke final Copenhagen Major atas G2
31 March 2024
Natus Vincere muncul sebagai pemenang semifinal kedua PGL Major Copenhagen, mengamankan...
fz
FaZe mengalahkan Vitality untuk mendapatkan tempat terakhir Major
31 March 2024
FaZe menjadi grand finalis pertama PGL Major Copenhagen setelah mengalahkan Vitality...
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

SHARE THIS ARTICLE WITH FRIENDS

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on google
Google+

Leave a Comment

Your email address will not be published.