Masa Depan Klopp Yang Sulit Bersama Liverpool - Berita Olahraga | Betting Online | Kasino Online

Masa Depan Klopp Yang Sulit Bersama Liverpool

Patah hati masal terjadi kala Liverpool harus kalah menyakitkan 3-1 dari Real Madrid di laga final Liga Champions UEFA musim 2017/2018. Penantian selama 13 tahun lamanya pupus begitu saja dengan cara yang mungkin tidak pernah terbesit sekalipun dibenak siapa saja termasuk pendukung Madrid paling fanatik sekalipun.

Cederanya Mo Salah terus dipergunjingkan dengan Sergio Ramos sebagai pelaku yang dituduh bersalah karena dianggap sengaja melakukan tindakan tak terpuji mengunci lengan Salah dan membantingknya ke tanah. Selain itu, Loris Karius pun menjadi sorotan utama setelah tercatat 2 kali melakukan blunder yang sangat teramat konyol untuk ukuran partai final sebesar ini. Di sisi lain, Gareth Bale juga disorot setelah gol tendangan saltonya 2 menit usai memasuki lapangan membuat seluruh mata terbelalak.

Mencatat beberapa rekam kejadian diatas, kita semua setuju bahwa Liverpool bermain dengan intensitas berbeda setelah Salah keluar. Pertanyaannya, apakah jika Salah tetap berada diatas lapangan, maka hasil pertandingan akan berbeda? Tentu saja mungkin. Namun saya memercayai bahwa andai pun Liverpool menang, mereka akan menang dengan sedikit dinaungi keberuntungan. Toh Bale dan Karius akan tetap dimainkan dan 2 hal yang saya rangkum diatas tetap melibatkan kedua pemain tersebut.

Dari sisi taktik, Zidane berhasil menekan egonya dan kembali membuat Klopp kehilangan akal. Satu-satunya taktik Klopp terasa pincang setelah Salah ditarik keluar. Meskipun Adam Lallana merupakan pemain yang mampu memberikan perbedaan, malam itu hal tersebut sayangnya tidak terjadi. Madrid dengan leluasa mulai menguasai pertandingan terutama di lini tengah. Henderson, Milner, dan Wijnaldum benar-benar dibuat mati kutu oleh trio Modric, Kroos, dan Casemiro. Trio lini tengah Liverpool hanya mampu membuang bola dari sisi lapangan dan berharap salah satu dari trio lini depan Liverpool berhasil mengejar atau mencuri bola di area pertahanan Madrid. Hal ini sekaligus mempersulit overlap dari kedua bek sayap Liverpool Robertson dan Alexander Arnold yang sebenarnya di awal laga juga membuat baris pertahanan Madrid kelimpungan.

Disinilah kita melihat celah besar yang harus ditanggung oleh setiap tim yang diasuh Klopp terutama Dortmund dan Liverpool. Dari 7 final yang dilakoninya, Klopp terjungkal sebanyak 6 kali. Dengan cara yang kurang lebih sama taktik gegenpressing ini menjadi bumerang bagi anak asuhnya sendiri terutama di babak kedua. Terkurasnya fisik dan mental pemain jelas menjadi salah satu akibat dari taktik super agresif tersebut. Tidak ada gol cepat ataupun banyak gol, maka taktik tersebut akan berbalik meneyrang timnya sendiri terutama kala bermain menghadapi tim yang selevel ataupun lebih superior di setiap lini seperti Madrid. Klopp dan tim asuhannya terkesan kehilangan akal seandainya plan A tidak berjalan baik.

Lengahnya Karius memang sulit kita terima dengan akal sehat, namun jika berpikir sedikit logis, mungkin faktor mental dan tekanan Madrid semenjak Salah keluar mempengaruhi Karius yang masih mentah pengalaman di level tertinggi. Toh menilai Karius dibayar oleh Fiorentino Perez terdengar terlalu jongos dan tak masuk diakal. Jadi saya percaya bahwa faktor kelelahan serta tekanan Madrid membuat jalur pandangan Karius sedikit terganggu dan menguras konsentrasinya. Benzema pun patut diapresiasi karena agresinya yang terus mengejar bola meskipun pada umumnya hal tersebut sering dianggap hanya membuang tenaga.

Karius pun sebenarnya bukan kiper jelek seperti apa yang disematkan banyak orang usai pertandingan. Ia merupakan sosok potensial asal Jerman yang dianggap bisa menjadi tulang punggung pertahanan tim nasional di masa mendatang. Begitupun dengan Lovren dan Van Dijk yang sebenarnya merupakan sosok tangguh sebelum berubah jadi bek lelucon bersama Liverpool. Saya rasa taktik Klopp yang terlihat begitu menyegarkan mata dan adrenalin sebenarnya tak akan sanggup membuat Liverpool juara dengan komposisi saat ini. Bisa saja, andai Klopp memiliki keseluruhan skuad berkelas dunia yang memang sudah kenyang pengalaman dan memiliki mental juara.

Manchester City merupakan contoh nyata lainnya. Pep gagal di Liga Champions karena faktor tersebut dan tentunya ditambah dengan agresifitas Liverpool yang untungnya berjalan mulus saat itu. Lain halnya di Liga Inggris. Dengan skuad yang mayoritas berisi pemain potensial, Pep mengajarkan mereka basis sistem permainan yang bisa diaplikasikan dengan lebih konsisten dan terorganisir. Bukan hanya sekedar berlari mengejar bola dan melakukan pressing tanpa memikirkan stamina dan mengorbankan pertahanan di akhir laga. Walau tentu saja Pep tak melakukannya dengan sempurna karena City kerap kebobolan di akhir laga musim ini. Hal yang juga terjadi pada Liverpool di babak kedua namun dibedakan oleh kedalaman skuad dan gol menit akhir yang kerap dilakukan City berulang kali musim ini.

Pembelian Nabi Keita dan mungkin Nabil Fekir di musim depan jelas merupakan pembelian yang luar biasa bagus bagi Liverpool. Namun andai tak membenahi kedalaman skuad dan lini pertahanan Liverpool, masa depan Klopp di Liverpool mungkin akan berakhir tragis dan hanya meninggalkan kenangan manis akan harapan yang mungkin terjadi di laga final.

Zidane dan Real Madrid memang pantas menang pada laga final kemarin. Hanya saja mungkin caranya akan terasa sedikit lebih baik andai Klopp mau sedikit berbenah dan tak mengorbankan apa yang paling penting dalam sebuah pertandingan sepakbola.

Fisik, mental, dan konsentrasi para pemainnya.

 

Popular News

IMG_4202
Sabar/Reza Juara Spain Masters, Menang Dramatis Lawan Malaysia
31 March 2024
Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani berhasil menjuarai Spain Masters...
8
Duet Gia dan Megawati Pencetak Poin Red Sparks Musim Ini
31 March 2024
Giovanna Milana alias Gia menyatakan tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada...
navii
NAVI melaju ke final Copenhagen Major atas G2
31 March 2024
Natus Vincere muncul sebagai pemenang semifinal kedua PGL Major Copenhagen, mengamankan...
fz
FaZe mengalahkan Vitality untuk mendapatkan tempat terakhir Major
31 March 2024
FaZe menjadi grand finalis pertama PGL Major Copenhagen setelah mengalahkan Vitality...
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

SHARE THIS ARTICLE WITH FRIENDS

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on google
Google+

Leave a Comment

Your email address will not be published.