Masa Depan Liverpool - Berita Olahraga | Betting Online | Kasino Online

Masa Depan Liverpool

Dalam beberapa hari ini, keberhasilan Sevilla meraih treble tiga kali juara secara beruntun di ajang Europa League menghiasi media massa baik itu cetak maupun online. Yang tidak kalah menariknya adalah pembahasan media-media sepakbola yang memberikan opini mereka melalui para pundit, jurnalis, serta pecinta sepakbola atas faktor dan alasan kekalahan Liverpool di St. Jakob Park.

Dimulai dari kepercayaan bahwa tim yang berseragam putih selalu keluar sebagai pemenang final jika venue pertandingan diadakan di St. Jakob Park, James Milner yang menjadi pembawa sial bagi tim yang dibelanya karena selalu kalah pula pada pertandingan final, hingga pembahasan rasional yang terus dilakukan atas buruknya performa mantan pemain Sevilla yang kini berseragam Liverpool, Alberto Moreno. Itupun belum ditambah kisah sial Jurgen Klopp yang kini telah mengalami 5 kali kekalahan beruntun saat anak asuhnya bermain dalam final suatu kompetisi.

Melihat suatu pertandingan sepakbola dari begitu banyak sudut pandang akan menyulitkan kebanyakan orang untuk menilai tim tersebut secara mendetail. Banyak sekali orang-orang, baik yang mengerti ataupun sekedar tau sepakbola menilai permainan sebuah tim beserta kinerja pelatihnya dari 1-2 pertandingan, lalu membuat penilaian seadanya tanpa melihat sederetan fakta aktual yang ada selama ini.

Banyak yang beropini bahwa Klopp hanya mengerti satu gaya dalam memainkan sepakbolanya yaitu bermain agresif kala menyerang maupun bertahan. Bisa kita lihat taktik gegenpressing racikan Klopp memang selalu jadi andalan kala ia melatih Mainz, Dortmund, maupun Liverpool. Taktik ini diibaratkan bagai pedang bermata dua karena mampu menghasilkan daya serang luar biasa, namun akan berefek fatal kala timnya kelelahan sehingga akan terdapat begitu banyak ruang kosong yang mampu diekspos oleh lawan. Hal ini lah yang juga jadi penyebab terpuruknya Dortmund di tahun terakhir Klopp melatih di Jerman. Banyak yang berkata bahwa Klopp hanya mengandalkan karisma serta semangat heavy metal saat timnya terdesak tanpa mampu memberikan alternatif strategi yang berarti.

Setelah pada musim ini gagal meraih tiket untuk berlaga di Eropa dan hanya menempati posisi 8 di klasemen akhir Premier League, Klopp juga gagal pada laga final Piala Carling dan Europa League sehingga semakin banyak suara miring yang menganggap Klopp juga gagal membawa perubahan berarti dalam tubuh tim Liverpool.

Yang banyak dilupakan oleh banyak orang adalah tim-tim yang mengalahkan anak asuh Klopp adalah tim yang memang lebih superior. 4 final diantaranya Klopp 2 kali takhluk oleh tim terbaik Bayern Muenchen, salah satunya kala Muenchen yang saat itu masih diasuh Jupp Heynches mampu menang tipis 2-1 pada laga final Champions League tahun 2013 lalu.

Di final piala Carling pun mereka hanya kalah dalam adu penalti saat menghadapi Manchester City yang sudah lebih matang dan siap dibawah asuhan Manuel Pellegrini. Sevilla yang baru mengalahkan mereka juga sudah begitu kaya dan kenyang pengalaman dengan hasil positif di Europa League selama 3 tahun beruntun menjadi jawara. Unai Emery jelas telah tahu serta memiliki taktik dan skuad terbaiknya setelah 4 tahun menjadi pelatih Sevilla.

Melihat Klopp yang baru 7 bulan melatih Liverpool, belum lagi dengan fakta bahwa skuad yang Ia miliki saat ini adalah pemain warisan dari era Brendan Rodgers, maka akan sangat tidak adil rasanya mengadili Klopp bahwa Ia telah gagal membawa Liverpool ke arah yang lebih baik. Sungguh tidak adil rasanya saat orang berkata bahwa Ia telah gagal dalam 5 final terakhirnya saat 3 pertandingan sebelumnya Ia lakoni tidak bersama Liverpool dan bahkan melawan tim yang begitu superior seperti Bayern Muenchen. Belum ditambah fakta pemain terbaiknya di Dortmund seperti Mario Gotze dan Robert Lewandowski yang menyeberang ke kubu Muenchen.

Pandangan dunia terhadap sepakbola memang begitu bergeser pada masa-masa kini. Uang yang menjadi daya gedor sebuah tim dalam mengambil pelatih dan pemain terbaik menjadikan hasil praktis berupa gelar juara sebuah harga mati yang harus terlunasi. Mengatakan Klopp sebagai pelatih gagal yang miskin taktik dan tidak mempunyai mental juara adalah hal yang bodoh. Apakah Guardiola yang gagal 3 kali secara beruntun di semifinal Champions League dalam 3 tahun terakhirnya bersama Beyrn Muenchen merupakan pelatih gagal? Atau sebut saja Sir Alex Ferguson yang kalah 2 kali di final Champions League dalam 3 tahun terakhir saat menghadapi tim sebesar Barcelona, bisakah Sir Alex langsung dicap sebagai pelatih gagal? Penilaian tidak bisa kita lakukan secara instan atau dalam kurun waktu yang singkat begitu saja.

Jangan lupakan bahwa Klopp merupakan pelatih idaman banyak klub saat ini, Ia adalah pelatih yang berhasil membawa Dortmund menjadi salah satu tim terbaik di Eropa kala menggulingkan supremasi Muenchen di Bundesliga tahun 2011 dan 2012. Belum lagi kala menghancurkan Real Madrid di perjalanan mereka menuju final Champions league setahun berselang.

Mungkin banyak proses yang perlu dilakukan oleh Klopp pada musim penuh pertamanya melatih Liverpool tahun depan. Ia harus mampu mempertahankan para pemain kuncinya dan melepas beberapa pemain yang memang mungkin sudah tidak pantas membawa panji Liverpool dibawah asuhan Klopp. Apapun yang Klopp lakukan, rasanya penilaian yang sebenarnya baru bisa kita lakukan setelah 2-3 tahun ia melatih di Inggris bersama dengan pemain terbaik pilihannya sendiri.

Adapun meski Klopp tidak mampu mempersembahkan piala pada musim pertamanya, setidaknya kini Ia telah mampu merubah mereka yang tidak percaya hingga kembali mendapatkan kepercayaannya pada Liverpool. Kekalahan di Basel ini bisa jadi merupakan satu batu loncatan bagi Klopp untuk merubah masa depan Liverpool yang sebenarnya musim depan. Kegagalan pada musim ini bisa menjadi lecutan yang berharga bagi Klopp dan para pemain Liverpool seperti Countinho, Firmino, Sturridge, dan Emre Can yang masih tergolong belia untuk meraih kesuksesan di masa yang akan datang.

Mungkin tidak musim ini, tetapi masa depan Liverpool bersama Klopp nampaknya akan terus berjalan menarik dan patut ditunggu kelanjutannya. Mari kita tunda penilaian kita pada pelatih yang satu ini sampai setidaknya beberapa musim ke depan.

 

 

Popular News

IMG_4202
Sabar/Reza Juara Spain Masters, Menang Dramatis Lawan Malaysia
31 March 2024
Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani berhasil menjuarai Spain Masters...
8
Duet Gia dan Megawati Pencetak Poin Red Sparks Musim Ini
31 March 2024
Giovanna Milana alias Gia menyatakan tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada...
navii
NAVI melaju ke final Copenhagen Major atas G2
31 March 2024
Natus Vincere muncul sebagai pemenang semifinal kedua PGL Major Copenhagen, mengamankan...
fz
FaZe mengalahkan Vitality untuk mendapatkan tempat terakhir Major
31 March 2024
FaZe menjadi grand finalis pertama PGL Major Copenhagen setelah mengalahkan Vitality...
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

SHARE THIS ARTICLE WITH FRIENDS

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on google
Google+

Leave a Comment

Your email address will not be published.